Rabu, 30 Oktober 2013

70% Bahan Baku Mamin Impor

Adhi S. lukman,                        foto: Bimo  

PRODUK MAKANAN DAN MINUMAN  MASIH TERGANTUNG DENGAN BAHAN BAKU IMPOR. BAHKAN HAMPIR 70 PERSEN SEMUANYA  MASIH DIIMPOR. HAL INI DISEBABKAN OLEH MINIMNYA PRODUKSI DAN PASOKAN BAHAN BAKU LOKAL. 

Menurut  Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia  (GAPMMI) Adhi S. Lukman,  impor bahan baku tidak menjadi masalah asalkan produk lanjutannya diproses di Indonesia sehingga value added-nya  bisa berada di Indonesia.

“Seperti gandum kan tidak bisa ditanam di Indonesia. Tetapi produk lanjutannya seper ti roti, kue bisa diproses disini sehingga value addednya bisa dinikmati,”jelas Adhi pada Agrofarm di Jakarta.

Menurut Adhi,  bahan baku yang masih tersedia di dalam negeri, para  pelaku industri makanan dan minuman  diminta untuk menggunakan bahan baku lokal.

Adhi memperkirakan impor makanan dan minuman (mamin) yang mayoritas berupa bahan baku hingga akhir tahun ini bisa mencapai USD 7 miliar atau sekitar Rp 66 triliun, karena minimnya pasokan dari dalam negeri. “Impor bahan baku pada tahun ini  menyentuh USD 7 miliar, naik 16,6% dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar USD 6 miliar. Minimnya pasokan bahan baku seperti gandum, membuat produsen harus mengimpor dari negara lain,” jawab Adhi.

Adhi berharap pemerintah fokus di sektor hulu apabila tidak ingin impor terus meningkat. “Bahan  baku produsen makanan dan minuman nasional saat ini sekitar 70% di antaranya masih diimpor. Tingginya impor bahan baku itu bisa mempengaruhi harga jual produk makanan dan minuman olahan di pasar domestik,” jelasnya.

Adhi juga menjelaskan, kalau saat ini mendorong produsen terus mengembangkan inovasi guna meningkatkan daya saing dan menekan impor barang konsumsi termasuk makanan dan minuman. Bahkan, dilihat dari sisi produsen tentu pihaknya harus meningkatkan inovasi produk. Dan ini harus dilakukan terus karena tanpa inovasi industri ini akan berhenti.

Produsen, kata Adhi, harus mampu  memanfaatkan sumber daya yang ada  di dalam negeri dengan mengemas dan memprosesnya menjadi produk yang unik dan tidak pasaran.

Diferensiasi inovasi, menurut Adhi, penting untuk mendorong daya saing di tengah gencarnya impor. Produsen perlu mewaspadai dan menyiasati persaingan itu dengan terus berinovasi dalam pengembangan produk. Selain itu, produsen juga perlu melakukan efisiensi guna meningkatkan daya saing produk yang menurun akibat beban biaya produksi.

hilirisasi  Industri
Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto, MM  mengakui tingginya impor bahan baku untuk industri agro.  Panggah, melihat pertumbuhan industri mamin terus meningkat, dan ini tentu mengakibatkan peningkatan impor bahan baku.

Untuk mengurangi impor bahan baku, menurut mantan Dirjen BIM ini, perlu peningkatan program hilirisasi sektor industri nasional. Pasalnya, pangsa pasar produk berbasis agro  cukup besar, dan ini mendorong tumbuhnya permintaan bahan tambahan pangan.

Panggah menjelaskan, saat ini Kementerian Perindustrian tengah menggenjot ekspor,  terkait dengan pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika. Hambatan-hambatan dalam  ekspor ini tengah dibahas, seperti  masalah sertifikasi. Karena negaranegara lain sudah melakukan sertifikasi untuk mengamankan produk lokalnya.

“Dengan sertifikasi, diharapkan kita bisa mengurangi impor. Dan di tengah kondisi rupiah saat ini industri sedang berusaha mengurangi defisit neraca perdagangan dengan mengurangi impor. Dan dalam pertemuan dengan kalangan pengusaha ekspor kemarin pemerintah mendorong industri melakukan ekspor untuk produk-produk terbaik,”papar Panggah pada Agrofarm di Jakarta.


Peluang ekspor ini, kata Panggah masih sangat besar, karena dengan membaiknya perekonomian Amerika, dan Eropa. irsa fitri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar